Mengaplikasikan Keberagamaan Bersama Koramil Nganjuk

By IT Media Jatayu Pada : 22 Mar 2017, 13:39:02 WIB, - Kategori : PertanianMengaplikasikan Keberagamaan Bersama Koramil Nganjuk

  Nganjuk 21/3 – Koramil 0810/01 Nganjuk mengadakan kegiatan pembekalan bersama tim BKT (Bina Kerabat Tani) Jatayu Pomosda. Sejak pagi Pak Irawan dan tim tampak sibuk menyiapkan keperluan pembekalan ke Koramil Nganjuk: Tong budidaya lele, Felita (fermentasi limbah rumah tangga), dan media tanam. Dari Pomosda, saya berangkat bersama tim BKT dengan semangat.. Namun saya agak berdebar karena baru pertama kalinya meliput kegiatan di Koramil.

Pak Mujiono, nama yang saya lihat dari seragamnya, terlihat sibuk menyiapkan kursi di depan halaman kantor.  Namun sejenak saya mulai bertanya-tanya, mengapa Koramil Nganjuk sangat antusias mengikuti kegiatan kemandirian pangan yang notabene merupakan programnya Bapak Kyai Tanjung? Pak Irawan dari pihak Pomosda, selaku kunci adanya kegiatan ini menjelaskan, “sebetulnya kegiatan ini adalah pembekalan aplikasi keberagamaan yang diwujudkan dengan program kemandirian pangan. Kami meng-optimalisasi lahan sela di Koramil ini dengan sistem PTSA.” Benar adanya apa yang diungkap Pak Irawan. Di sekitar kantor Koramil telah terjejer berbagai polibag yang berisi tanaman seperti terong, tomat, cabe, dan sebagainya mengisi lahan sela kantor Koramil 0810/01 Nganjuk. Wah, berarti mereka sudah menerapkan program Bapak Kyai Tanjung ini sejak lama, bisik saya dalam hati.

Agus K menerangkan tentang budidaya lele dan penerapan felita sebagai media atau tempat budidaya

  
Menurut Pak Irawan, pembekalan ini adalah wujud Jatayu Pomosda dalam mendukung Koramil Nganjuk menjadi Koramil model atau percontohan. Katanya juga ini menjadi program serbuan teritorial, artinya kegiatan TNI yang menyentuh langsung di masyarakat.

Tak lama setelah saya puas menolehkan pandangan di sekitar halaman, dengan penuh percaya diri Pak Irawan memberi sambutan dan pengarahan kepada seluruh anggota Koramil. Dalam sambutannya, Pak Irawan menekankan kembali tujuan budidaya lele, membuat Felita, dan bercocok tanam di lahan sela ini hanyalah untuk ibadah. Tidak ada bedanya dengan ibadah salat, puasa, dan sebagainya. Begitu ungkap Pak Irawan sesuai petunjuk Gurunya, Bapak Kyai Tanjung. Saya juga dibuat heran dan baru mengerti, kegiatan ini ternyata sangat erat kaitannya dengan kegiatan keberagamaan kita sehari-hari. Mungkin ini termasuk aplikasi ayat Al-quran mengenai perintah memakmurkan bumi-Nya Tuhan, ucap saya di hati.

Tepat pukul 09.30 WIB, tim BKT mulai memberikan arahan mengenai cara mengaplikasikan media tanam, tong budidaya lele, maupun Felita dengan interaktif. Tak luput Pak Agus Kurniawan (Koordinator BKT) turut andil mengisi materi. Setelah materi selesai diberikan, mereka langsung terjun mengaplikasikan ke halaman belakang kantor. Seluruh peserta yang terdiri dari anggota Koramil tampak antusias, bahkan ada yang bersedia menerapkan di rumah masing-masing.

Dari awal saya memperhatikan kegiatan ini, saya teringat kembali dengan istilah zero waste yang pernah diungkapkan oleh Pak Philip –seorang ahli mikrobakteria-  kepada saya saat  di Surabaya bersama Komunitas Sahabat Bumi. Pertama, Felita yang digunakan ini merupakan cara mengatasi sisa makanan yang biasanya dibuang. Sisa makanan di fermentasi dengan bio aktifator, lalu akan menghasilkan air yang dapat menyuburkan tanaman. Kedua, setelah cairan sisa makanan keluar, ampasnya dapat digunakan untuk kompos, sehingga siapapun bisa bertani dengan kompos buatan sendiri. Ketiga, selain dapat digunakan sebagai kompos, ampas tersebut dapat diberikan langsung ke maggot atau belatung yang dibudidayakan, ini merupakan sumber makanannya. Sebetulnya maggot sudah sering digunakan sebagai alternatif pakan yang baik bagi lele, sebab kandungan protein maggot mencapai 40% dari pelet buatan yang memiliki kadar protein hanya 20-25%. Saya bergumam, zero waste  adalah salah satu indikator kita sudah PTSA.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 12 siang, suara tembakan tak lagi terdengar. Pak Irawan bersama tim BKT pun mulai berkemas untuk pulang.  Peserta terlihat sumringah setelah mendapat pembekalan ini. Tak lupa pula saya mendokumentasikan momen ini dengan foto bersama dibawah kibaran bendera merah-putih. Mari cintai tanah ini, tanah Indonesia. | (Auliya Zahrul Atiq).