Gaung Pancasila Semakin Membahana
(Pengingat)

By Media Pomosda 25 Jul 2019, 20:15:54 WIBNasional

Gaung Pancasila Semakin Membahana

Keterangan Gambar : patung-garuda-pancasila


Alhamdulillah... adalah kalimat syukur..... menjadi bagian dari komponen bangsa ini, NKRI. Saya bersyukur sekali.. ditengah-tengah situasi yang penuh dengan ketidakpastian arah sasaran dan paradigma ideal Pancasila yang tergerus ideologi materilis-sekuler. Namun tan hana darma mangrwa. Kebenaran tetaplah kebenaran, mau dikata dan disangka apapun tidak akan bergeser seincipun.

Dalam kecamuk gejolak bangganya penduduk bangsa ini terhadap kesementaraan yang di angkat-angkat, prestasi angka-angka yang dikejar dan dihayati, ketertekanan terhadap perilaku menang-kalah yang dirasakan, namun masih tetap tidak bergeming yang namanya Pancasila tetap kokoh berada di tengah persimpangan, walau SAMPAI SAAT INI keberadaannya masih diabaikan, belum tersentuh sebagai tools dalam dialektika kehidupan, atau sebagai substansi apalagi sebagai esensi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dan tampaknya semakin jauh panggang dari apii banyak yang melirik, namun acuh kembali tidak tercermati sebagai ideologi yang selayaknya.

Semua telah tenggelam bersama dengan idola-idolanya, bersama dengan retorika-retorikanya, bersama dengan konsep-konsep kebenaran dan keagungan-keagungan dan kemuliaan-kemuliaannya yang telah di dialektikakan yang dipresentatifkan sebagai kebenaran. Entah kebenaran dari mana? dan kebenaran siapa..? Memang tampak belum teridentifikasi dengan pasti kecuali kebenaran demokrasi..??. Dan tampaknya demokrasi telah menempati fungsi Tuhan Yang Maha Esa..??

Penduduk bumi mengacungkan tangan, mengempalkan genggaman seraya teriak medeka atau Allahu Akbar. Mereka meyakini kebenaran dalam perspektif "yang mana" tektual atau kontekstual atau sekedar teriak-teriak menghabiskan sisa energi yang masih ada.

Sedang ada “sosok” yang tidak berani mengatakan kebenaran sebagai kebenaranku, karana memang secara fakta memang bukan kepemilikan “sosok”. Sungguh, bahwa Kebenaran itu adalah dari Tuhan-ku (kamu). ALHAQ MIN ROBBIKA.

Kebenaran yang aku ikuti dan aku jalani mutlak dari Tuhan-ku, kebenaran itu adalah Al-Haq-Nya. Kebenaran itu adalah dapur keimanan dalam ikatan administrasi persaksian, sedangkan untaian kata dalam kalimat yang terangkai yang mesti disuguhkan adalah senyuman, kasih-sayang, bebarengan, pandai mengalah, gotongroyong, saling peduli, respon, respek dan tanggap dan berperilaku karakter berkepedulian operasional. Dan musyawarahan yang relevansinya dengan dapur keimanan yang terkomunikasikan dengan bumbu-bumbu perilaku lahiriyah dengan kearifan yang selaras, serasi dan seimbang.

Pancasila terus digaungkan, dikumandangkan seiring dengan aliran pemikiran dari masing-masing keyakinan dan dari masing-masing kelompok, hal ini kita syukuri atas tergugahnya kesadaran berpancasila. Dan telah menempati posisi “handarbeni” rasa kepemilikan atas perjuangan yang dilakukan dengan aliran detak jantung yang memompa aliran darah kesungguhan. Dimana awal perjuangannya adalah pengorbanan tetesan darah.

Yang semoga handebeni tetap dalam koridor makna sejatinya, dan tidak diambil oleh kepentingan “klaim” pengakuan kelompok, golongan, partai: “itu adalah perjuangan bapakku lhoo”; “ini hasil kelompok dan golongan kami lhoo yang telah memilih peran sentral terwujudnya perjuangan”; "golongan dan kelompok kami lhoo yang juga telah berjuang”. Sehingga akan terjebak dalam lingkaran ego sentrisnya.

Harapannya adalah semoga gaung ini memang merepresentasikan kesadaran yang sesungguhnya, sebab tanpa kemurnian dan kesucian posisi demokrasi yang telah terpinjam menjadi yang Maha esa akan diambil alih oleh latta-uzza-manna yang telah teridolakan, maksudnya demokrasi material, sekuler, hidonis yang tetap menguasai.

Renungannya adalah kenapa dan bagaimana "sentral tengah yang munjer bergambar bintang", bagaimana kita mengetahui maksud dari mana pencetus PANCASILA kok mengetahui bahwa dalam dada bergambar bintang dan berbunyi ketuhanan yang Maha Esa dan keduanya bergambar rantai saling ikat mengkait dan berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab. Kenapa tidak tertulis Tuhan yang Maha Kuasa dan manusia yang adil dan ber-akhlak, serta bagaimana mengkontekstualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai makna imanen dan realitas.

Dan dari mana mereka mengetahui dan kita mengikuti atas penjabaran bahwa sila yang pertama berbicara perihal Al-haq min Rabbika, perihal fungsi hati nurani dan sila yang kedua berbicara perihal hakekat fitrah manusia yang asal Fitrah Manusia dari Fitrah Tuhan Yang Maha Esa.

Sang pendosa @ Kyai Tanjung
@Nusantara_bangkit



Video Terkait:


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment