KEBUTUHAN KEPEMIMPINAN BANGSA INDONESIA.

By Media Tanjung 26 Sep 2019, 00:21:48 WIB

KEBUTUHAN KEPEMIMPINAN BANGSA INDONESIA.

Keterangan Gambar : yang di pimpin dan yang memimpin pandai mengadili diri sendiri


70 tahun lebih Kemerdekaan bangsa Indonesia telah di deklarasikan. 20 tahun lebih reformasi telah digulirkan. Namun hingga saat ini berbagai masalah masih membelit bangsa Indonesia. Di bidang politik, hukum, negeri ini laksana raksasa rapuh. Masalah kepemimpinan menjadi perhatian utama. Pemimpin yang menjadi problem solver diharapkan lahir dari rahim ibu pertiwi.

Apalagi saat ini, kondisi sekarang dimana demonstrasi mahasiswa terjadi dimana-mana, yang inti permasalahannya adalah perihal kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memihak kepada rakyat, kembali lagi inti permasalahannya adalah pemimpin.

Bahkan demonstrasi pun mulai mengarah penurunan presiden, dengan kata lain adalah masalah kepemimpinan bangsa. Betapa beratnya menerima dan mempercayai pemimpinnya sendiri, sebuah ironi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Untuk itu, mengagendakan dan memetakan problem pemimpin dan kepemimpinan nasional seharusnya menjadi hal yang mendasar. Hal itu sebagai langkah strategi rotasi dan suksesi kepemimpinan nasional ke depan.

Permasalahan seambrek-ambrek yang melilit bangsa ini, sesungguhnya adalah fenomena, namun fenomen apa? Sampai presidenpun dimasalahkan, yang dilakukan presiden tidak ada benarnya.

Lalu seperti apakah sosok pemimpin ideal yang diharapkan yang dapat membawa bangsa Indonesia ke masa pembebasan dan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya? Bangsa Indonesia ini memerlukan pemimpin baru!! Yang mengetahui dan mengenali karakter dasar manusia secara utuh lahir dan batin. Sehingga dapat membuat kebijkan yang terarah dan terukur.

Selama ini kita telah memiliki banyak pemimpin mulai dari daerah kabupaten, Propinsi sampai Pusat, dengan berbagai ragam karakter pemimpin, mulai dari yang biasa sampai yang terkenal, dan berkemampuan akademik yang hebat-hebat dengan berbagai gelar dan segudang prestasi dengan berbagai penghargaan yang spektakuler. Namun telah tersimpulkan, saat menjadi pemimpin sebagaian besar gagal total.

Terlepas dari kompleksitas keadaan pada umumnya, siapapun presidennya, bangsa ini masih terlilit hutang yang menjadi beban rakyat. Siapapun gubernur di Jakarta, macet dan banjir jika musim penghujan dan polusi udara yang tinggi saat kemarau masih akan menyelimuti kota jakarta. Siapapun presidenya kebakaran hutan di Sumatra dan kalimantan masih tetap menjadi asap yang menyesakkan dada dan masih menjadi berita viral.

Pemimpin seperti apa yang diperlukan? Untuk memecahkan masalah!! Pemimpin ideal yang akan membawa kepada kemaslahatan dan membawa arah bangsa ini dalam tatakelola kepemerintahan dalam ketatanegaraan yang mandiri dan berdaulat, dan terbebas dari intrik-intrik polusi kepentingan pribadi, kelompok dan golongan, bahkan kepentingan agama dan keyakinan.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan adanya suatu evaluasi pemikiran yang radikal!!

keberanian meletakkan konsep kepemimpinan tektual adalah salah satu kuncinya, yang mendasar adalah berpikir rasional, masuk akal, berhubungan dan hormat bagi semua!! Meletakkan ego keakuan, ego kesukuan kedaerahan, ego kepercayaan, ego keturunan dan ego-ego yang lain yang menjadikan hati tidak bisa bening dan tidak bisa berpikir jernih.

 

Kasus, banyak orang menyangka bahwa nantinya kalau terpilih pasti dirinya akan mampu menjadi pemimpin yang hebat, namun setelah benar-benar menjadi pemimpin faktanya kebingungan apa yang harus diperbuat, apa yang harus dilakukan, program apa yang digiatkan dan bagaimana memulai menjalankan program, benar-benar menjadi polemik pemimpin tekstual.

Kemudian bagaimana menyingkronkan mensinergikan mengkonsolidasikan dan mengkoordinasikan kegiatan dan program?? Bagaimana menyatukan dari berbagai elemen, instrumen dan variabel-variabel kepemimpinan dan kemasyarakatan?? Bagaimana manajemennya, bagaimana mengadministrasikannya?? Dan seambrek-ambrek variabel dan faktor-faktor lainnya.

Pemimpin seperti apa, dan bagaimana?? Sepertinya masyarakat bangsa ini menginginkan idealisme kepemimpinan atau pemimpin yang ideal yang akan sulit dipenuhi, kecuali jika ada orang suci atau seorang nabi atau seorang Rasul, yang beliau-beliau ini menjalankan kepemimpinannya murni sadar fakta sebagai hamba Tuhan dan karena jelas dalam hak dan sah dalam menjalankan perintah Tuhannya, sehingga sistem dan pola yang dijalankan sama sekali bukan karena kekuatan dan kekuasaan dan sama sekali tidak karena kepentingan ego nafsu keakuannya. Sedang manusia menerima atau menolak adalah perkara lain.

Orang Suci atau para Nabi atau para Rasul ini dalam menjalani kehidupan berdunia, dunia diposisikan sebagai semata hanya media alat (jw. ambah-ambahan) bukan sebagai tujuan supaya dalam keselamatan. Keselamatan lahir dan keselamatan batin. Berdunia dengan segala potensi lahiriyah dijalani dengan sungguh-sungguh bahwa bagaimana tatanan lahir digenapi dan disempurnakan dengan tatanan batin dengan “ilmu” yang memasukkan dalam terang CahayaNya melalui petunjuk Gurunya. Namun kedhawuhan Gurunya atau diperintah Allah kemudian mengaku Guru dan diaku bisanya diaku pinternya diaku wujudnya maka tidak perlu menunggu lama ditenggelamkan,  diluluhlantakan, dihancurleburkan dan masuk jahanam paling dulu.

Namun inipun dalam fakta sejarahnya, yang telah terekam dalam banyak ayatNya, para Nabi dan RasulNya selalu mengalami pertentangan yang hebat, mulai dari sindiran dan olok-olokan, fitnahan dan bahkan tidak sedikit yang terbunuh. Walau pada saat tertentu saat telah selesai masa olok-olokan, karena kesabaran para utusan sampai pada waktu saat benar-benar menjadi pemimpin, maka terjadilah penataan komunitas masyarakat yang harmonis, adil makmur masyarakat hidup damai tentram dan bahagia. Namun tidak sedikit beliau-beliau hidup sebagai manusia biasa selayaknya manusia lainya, hanya memiliki pengikut yang sangat sedikit sekali, hanya menjaga yang penting risalah AlHaq yang membuka hakekat kehidupan di dunia ini ada.

Sebab orang suci atau Nabi atau Utusan tersebut, kemunculannya:

pertama, selalu dianggap aneh dan asing, menyampaikan sesuatu yang tidak seperti biasanya yang telah menjadi hegemoni kepercayaan dan keyakinan serta telah diagamakan oleh masyarakat;

kedua, tidak pernah muncul dari kalangan tokoh yang ada diantara mereka, bukan kelompok dan golongannya, sedang saat itu penokohan dan hegemoni keturunan sangat diagung-agungkan;

ketiga, selalu muncul dalam keadaan ummi, artinya tidak dalam kriteria yang telah mereka sepakati dan mereka buat, sehingga selalu didiamkan, diabaikan, tidak diperhitungkan bahkan cenderung disingkirkan.

 

keempat, berkeadaan ummi dalam pengertian bukan dari kelompok akademik, cerdik pandai, bahkan tidak sedikit yang buta hurup. Sedang secara konsep kepemimpinan adalah pemimpin konsep tekstual.

kelima, masyarakat telah terjangkit bagai kalimat sms susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah, sistem persaingan sebagai lawan adalah sudah merupakan karakter dasar nafsu manusia;

keenam hegemoni kekuatan dan kekuasaan serta kemapanan, ketakutan dan kekhawatiran kehilangan kemuliaan dan kehormatan duniawi sudah merajelala, prasangka kehormatan, kemuliaan bahkan ekonomi, “kalau saya menerima keberadaan dia terus status saya nanti bagaimana?” padahal tidak demikian, sebab kedatangannya adalah melengkapi tatanan syareat yang telah dilakukan disempurnakan dengan perihal “isi” perihal batiniyah sehingga tidak kosong;

ketujuh, kepercayaaan dan keyakinan yang didasarkan kebiasaan masa lalu dan oleh nenek-moyang dan sistem mitos legenda sejarah telah sedemikian kuat mengakar, menjadi pola mindset pemikiran dan keyakinan walau rasionalitas dan nalar menolak.

Maka beliau orang suci atau nabi atau rasul tersebut dalam menjalankan perintah Allah dan petunjuk dari aguru-guru, dalam hal kehidupan berdunia selalu dimulai dari komunitas kecil dalam membuat perilaku teladan. Teladan dalam keluarga, teladan dalam komunitas masyarakatnya, teladan dalam perilaku berdunia kemandirian kedaulatan pemberdayaan dan berbudidaya menjadi ciri utamanya.

Sayang seribu sayang, hal diatas adanya hanya ada dalam tulisan kitab-kitab yang kita tempatkan sebagai semata-mata kisah dan cerita legenda masa lalu,

tidak untuk zaman sekarang, dizaman dimana kita tinggal dan kita hidup, atau adakah pemikiran kemungkinan sesungguhnya adalah seharusnya yakni “ada” hanya karena kita tidak mengerti dan tidak mau memahami dan tidak mau menyelami, yang sesungguhnya “seharusnya” ada.

(kembali kepada bangsa Indonesia) Kemudian pemimpin ideal seperti apa yang diperlukan saat ini oleh bangsa Indonesia??

Pemimpin yang memiliki perilaku ketaatan dan perilaku kesadaran sebagai hamba Tuhan dalam pengertian yang sesungguhnya, bukan pencitraan simbol-simbol agama dan kepercayaan, sebab orang taat dan sadar sebagai hamba Tuhan adalah keniscayaan dalam kesadaran perilaku keteladanan, kemandirian, memberdayakan diri, keluarga, sosial lingkungan masyarakatnya.

Pemimpin yang memiliki kelekatan dan keteguhan ideologi hal ini artinya Pemimpin yang dapat mengidentifikasi dengan pasti dan jelas tidak sekedar mampu menguraikan dan menjelaskan arti dan makna ideologi GARUDA PANCASILA, yang lebih utama dan mendasar telah mengimplementasikan, mengamalkan, mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari, yang telah diimplementasikan pada kehidupan sehari-harinya, dalam keluarga dan komunitas organisasnya.

Pemimpin yang memikirkan orang lain lebih besar dari pada memikirkan dirinya sendiri, pemimpin yang memiliki sikap tegas bukan kejam, respon, respek dan peduli dalam kehidupan sehari-harinya. Pemimpin yang bisa menguraikan, menjelaskan, mengaplikasikan bahwa kehidupan beragama dan berdunia adalah merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Kesatuan sistem.

 

Pemimpin yang dapat menyatukan berbagai elemen dan instrumen bangsa dan negara, kepemimpinan yang tidak terikat afiliansi kepartaian, tidak berwatak dan berfaham kultus, tidak dalam kelakuan fanatik kaku dan beku dalam keberagamaan, kepercayaan, keyakinan, sosial, budaya, suku-bangsa.

Pemimpin yang menyatukan bersikap terbuka, lapang dada dengan akal pikiran yang rasional masuk akal nalar berhubungan dan hormat bagi semua dan tanpa kepentingan ego keakuan dan pemimpin yang bersikap arif dan bijak yang berani mengambil alih masalah orang lain menjadi tanggung jawab dirinya alias menjadi problem solver akan membawa bangsa ini melepaskan diri dari persoalan-persoalan yang dihadapinya, memberdayakan orang-orang baik dalam internal organisasinya dan orang-orang yang diluar oganisasinya dalam perilaku mandiri dan berdaulat serta memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pemimpin yang mengetahui potensi dasar dan utama manusia, potensi masyarakat dan cara pengembangannya, menjadi pemimpin yang komunikatif dan mengetahui cara-cara bermusyawarah yang baik dan benar, sehingga musyawarah bukan sebagai ajang konspirasi, ajang pembenaran, ajang hegemoni, dan Pemimpin yang mengetahui potensi-potensi alam dan lingkungan dan cara merawatnya, menjaganya dan mengembangkan untuk kesejahteraan rakyatnya.

Pemimpin dengan hujah lahiriyah jasadiyah dan hujah batiniyah hakikiyah. Hujah lahiriyah jasadiyah melakukan tatanan lahiriyah dengan adab dan akhlak, sopan santun menghargai, rasional masuk akal dan bernalar, dan melakukan pemberdayaan dan berbudidaya untuk kemandirian dan kedaulatan; dan hujah batiniyah adalah mengenali dengan jelas dan pasti arah dan tujuan hidup, dari mana asal-usul kehidupan bagaimana kehidupan dijalani dan kemana tujuan kehidupan berdunia dialamatkan, selalu dalam fakta kehadiran tuhan didalam rasa hatinya, sehingga dalam kesadaran penghambaan disemua aktifitas berdunianya. Hal demikian adalah mutlak..!!

Sehingga kemana arah kehidupan berbangsa dan bernegera ini menjadi jelas!! Akan dibawa kemana dan bagaimana mencapai arah dan sasaran serta tujuannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya.

Pemimpin yang memang telah terikat sumpah-janji bahwa yang dikerjakan dan yang dijalani dalam kepemimpinananya adalah karena menjanlankan perintah Tuhan untuk berbuat kebaikan dan kemaslahatan dalam hidupnya, sehingga tidak akan berani mengaku. Menjalankan perintah Tuhan, kemudian berani mengaku maka sebesar-besarnya murtad dan sebesar-besarnya kafir maka dosa besar, dan pasti Allah akan menghancurleburkan luluh lantak tidak berbekas, hal demikian adalah mutlak..!!

Mari kita semua berani jujur walau jujur itu berat, bersikap terbuka lapang dada nyegoro, berpikir rasional masuk akal dan bernalar serta hormat bagi semua.

Pertanyaanya?? Siapakah pemimpin seperti yang tertera dalam tulisan diatas itu, bisa anda!, bisa dia!, bisa mereka! bisa siapa saja..!! terimalah siapapun dia, kalau memang hal demikian adalah ketetapan Tuhan, ketetapan Allah.

Andakah pemimpin itu atau diakan pemimpin itu, atau mereka.

Semoga bangsa ini segera dimunculkan pemimpin yang dalam Fadhol dan RahmatNya, ridho dan maghfiroNya... amiin.

#kyai_tanjung

#pemurnian_kemurnian

#nusantara_bangkit



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment